Akselerasi Transisi Energi, Magister Energi Terbarukan UMM Bedah Tantangan PLTS Hingga Ekosistem Kendaraan Listrik

Suasana kuliah tamu Magister Rekayasa Energi Terbarukan UMM mengenai transisi energi nasional. MALANG – Program Studi Magister Rekayasa Energi Terbarukan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sukses menggelar kuliah tamu bertajuk “Tantangan Implementasi Energi Terbarukan di Indonesia” pada Selasa (05/05/2026). Kegiatan strategis ini menghadirkan pakar dari lintas institusi untuk membedah solusi inovatif di tengah melimpahnya potensi energi bersih nasional yang belum tergarap optimal. Acara dibuka oleh Direktur Program Pascasarjana (DPPs) UMM, Prof. Dr. Khozin, M.Ag., yang menegaskan bahwa peran akademisi sangat krusial dalam menciptakan inovasi riset guna mendukung transisi energi nasional. Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi S2 Rekayasa Energi Terbarukan UMM, Dr. Samin, menyoroti adanya paradoks energi di tanah air. “Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang melimpah, namun pemanfaatannya masih jauh dari maksimal. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang besar bagi kita semua, khususnya kalangan akademisi,” tegas Dr. Samin dalam orasi pembukanya. Inovasi Tenaga Surya dan Robot AI Narasumber pertama, Prof. Dr. Machmud Effendy dari UMM, memaparkan fakta bahwa dari potensi energi surya Indonesia sebesar 3.294 GW, pemanfaatannya baru menyentuh angka 1,49 GW. Untuk menjawab kendala teknis, ia memperkenalkan inovasi smart inverter dan sistem adaptive droop control. Tak hanya teori, UMM juga memamerkan teknologi masa depan berupa robot otonom pembersih panel surya yang dilengkapi kamera termal berbasis AI. Teknologi ini dirancang untuk mendeteksi hotspot secara otomatis guna menjaga efisiensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Sampah Bukan Sekadar Limbah Beralih ke isu lingkungan, Prof. Dr. Ir. Mochammad Chaerul dari ITB menjelaskan bahwa teknologi Waste to Energy (WtE) adalah kunci pengelolaan sampah modern. Melalui metode seperti RDF dan gasifikasi, sampah dapat dikonversi menjadi energi listrik maupun biogas. Namun, ia mengingatkan agar orientasi utama tetap pada kelestarian lingkungan. “Hasil dari WtE—baik listrik maupun biogas—harus dianggap sebagai bonus, karena tujuan utama pengelolaan sampah tetaplah perlindungan lingkungan dan kesehatan masyarakat,” ujar Prof. Chaerul. Baterai Kendaraan Listrik: “Tambang Berjalan” Menutup sesi, Dr. Ir. Ganesha Tri Chandrasa dari BRIN mengulas pesatnya pertumbuhan kendaraan listrik yang mencapai 358.000 unit di Indonesia per Februari 2026. Fokus utama yang ia tekankan adalah keberlanjutan baterai melalui konsep second life application. “Baterai kendaraan bukanlah bahan habis pakai, melainkan ‘tambang berjalan’ yang bisa didaur ulang. Kita butuh kolaborasi lintas keilmuan agar ekosistem daur ulang ini bisa berjalan kokoh di Indonesia,” ungkap Dr. Ganesha. Melalui kuliah tamu ini, UMM kembali mempertegas komitmennya dalam membangun jejaring akademik dan industri untuk mempercepat transisi energi berkelanjutan. Diharapkan, para mahasiswa Magister Rekayasa Energi Terbarukan dapat menjadi agen perubahan yang siap menghadapi tantangan energi global di masa depan. Sumber Lengkap : mediapribumi.id